Jumat, 30 Desember 2011

Mereka Yang Bersinar Seperti Matahari di Padang Mahsyar (dikutip dari buku Iblis Guruku / IG karya Moeslih Rosyid)


Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa di padang Mahsyar nanti akan ada sekelompok orang yang memncarkan sinar lebih terang dari Matahari. Tantu saja ini sangat menyilaukan mata. Saya hanya akan membahas sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan saya disini. Yaitu kelompok orang yang wudhunya bagus.

            Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda, “Awalu man yuhasabu min abdi fi yaumil qiyamati Ash shalah,” Yang pertama kami dihitung (dihisab) bagi umatku di Hari Kiamat adalah shalat. Sementara tidak ada shalat tanpa wudhu. Dan sebaik-baik seorang mukmin adalah yang wudhunya bagus dan selalu menjaga wudhu.

            Untuk menjaga wudhu terus menerus, memang saya mengalami kesulitan. Tetapi kalau saya sedang di rumah atau  tidak sedang bersepatu, akan saya coba untuk melaksanakan nasehat leluhur Sumbawa NTB. Yaitu “Shalat No Putis, Wudhu No batal,” Shalat (ingat Allah) tak terputus dan wudhu yang tak pernah batal.

            Kalau di kantor atau pada  saat sedang  dalam pertemuan atau kondisi yang sangat tidak mungkin saya berwudhu, saya hanya bisa beristghfar. Tetapi kalau saya sedang mampu untuk melakukannya, insya Allah saya akan terus berusaha suci dari hadats kecil. Saya pun merasakan betapa baru mengamalkan yang demikian itu saja sudah begitu banyak manfaat hadir kepada saya. Ketenangan, kenikmatan mencintai-Nya, suasana haru mengingat-Nya dan kemudahan serta terkabulnya setiap permintaan yang saya ajukan kepada-Nya. Subhanallah, luar biasa. Mungkin inilah salah satu yang dipesankan Ustadz Ikram pada pertemuan saya dengan beliau tahun 2009 lalu. Pesan ini disampaikan di hadapan muridnya yang lain. Yaitu, “Barangsiapa takut kepada Allah, maka makhluk akan takut kepadanya. barangsiapa taat kepada Allah, maka makhluk akan taat kepadanya.” Wallahu a’lam

Cara wudhu yang mendatangkan cahaya
            Rukun adalah sesuatu yang harus ada. Dan bila tidak ada, maka sesuatu itu tidak akan sah hukumnya. Rukun Wudhu hanya  ada 6, yaitu :

1.   Niat (menyengaja berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil, karena Allah taala)
2.   Membasuh Muka (menyiram dan menggosok muka)
3.   Membasuh kedua tangan sampai siku
4.   Mengusap kepala
5.   Membasuh kedua kaki sampai mata kaki
6.   Tertib (berurutan, tidak boleh dibolak balik)

Pelaksanaan wudhu
1.   Sebelum menyentuh air membaca doa :

      “Allahumaghfir li danbi wawasi’li fi daari wa barikli
       fi rizqi” Ya Allah, ampunilah dosaku, perluaskah
      pergaulanku dan berkahilah rejekiku. Amin.

2.   Kemudian membaca doa agar air yang digunakan adalah air suci
“Allahuma thahuru hadzal ma’i,” Ya Allah, sucikanlah air ini.
3.   Berniat untuk wudhu  (bisa diucapkan atau dalam hati saja, atau bermaksud wudhu menghilangkan hadats kecil karena Allah taala)

“Nawaitu wudhu’a liraf’il hadatsil asghari fardha lillahi ta’ala,” Saya berniat wudhu untuk menghilangkan hadats kecil, wajib karena Allah Ta’ala.

4.   Disunatkan mencuci tangan, membersihkan hidung, berkumur dan bersiwak (membersihkan gigi), kemudian membasuh muka sambil membaca :

“Allahuma bayidh wajhi yauma taswada fihil wujuh, wala tusud wajhi yauma tabyadhu fihil wujuh,” Ya Allah, putihkanlah wajahku pada saat Engkau hitamkan wajah wajah orang yang Kau hitamkan. Dan janganlah Engkau hitamkan wajahku, pada saat Engkau memutihkan wajah orang-orang yang Kau putihkan.

5.   Membasuh kedua tangan

Tangan kanan 3 X sambil membaca :
“Allahuma’thini kitabi biyamini walhuladi wahasibni hisaban yasira,” Ya Allah, berikanlah kitabku dengan tangan kananku, dan mudahkanlah perhitunganku.

Membasuh tangan kiri 3 X sambil membaca :
“Allahuma la tu’thini kitabi bi syimali wala taj’alha maghlulatan ila ‘unuqi waaudzubika min muqatha ani niran,” Ya Allah, janganlah Engkau berikan kitabku dengan tangan kiriku. Dan janganlah Engkau jadikan belenggu kepada tengkukku. Dan aku berlindung kepada-Mu dari terputusnya rahmat-Mu.

6.   Mengusap kepala dengan air sambil mambaca
“Allahuma ghatsani birahmatika wa’afwaka wabarakatika,” ya Allah, basuhlah (dosaku) dengan rahmat-Mu, ampunan-Mu dan berkah-Mu.

Diteruskan dengan membersihkan telinga dan tengkuk sampai ke leher.

7.   Membasuh kedua kaki sampai dengan mata kaki, sambil membaca :

“Allahuma tsabitni ‘ala shirathi yauma tazalu fihil aqdam waj’al sa’id fima yurdhika anni,” Ya Allah, tetapkanlah aku atas jalan yang  pada hari di dalamnya sangat utama. Dan jadikanlah kebahagiaan menyelimutiku atas ridha-Mu.

8.   Berdoa sesudah wudhu :

“Asyhadu anla ilaha illallah  wahdahu  la syariika lah. Wa asyhadu  anna muhammadan abduhu wa  rasuuluh. Allahumaj ‘alni minattawabiina waj’alni minal mutathahiriina, waj’alni min ibaadikash shalihiin,” Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Tuhan Yang Maha Tunggal dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah  hamba dan utusan-Nya. Ya Alla, jadikanlah saya termasuk golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah saya  termasuk golongan orang-orang yang menucikan diri, dan jadikanlah saya termasuk golongan orang-orang yang shalih.

9.   Membaca Al-Qur’an Surat Al Qadar empat kali dengan maksud  untuk mendapatkan ampunan. Bacaan pertama ampunan untuk dosa kepala sampai leher. Bacaan kedua, ampunan untuk dada  sampai pusar. Bacaan ketiga, ampunan untuk pusar sampai kemaluan. Dan bacaan keempat, ampunan untuk di bawah kemaluan sampai ujung kaki.

10. Selanjutnya memperhatikan untuk mengulang masing-masing rukun 3 kali dan melaksanakan amalan sunah. Yang disunahkan dalam wudhu antara lain, (1) membaca basmalah sebelum berwudhu. (2) Membersihkan tangan dan jari-jari. (3) Membersihkan kotoran pada hidung. (4) Berkumur dan kalau bisa bersiwak atau sikat gigi. (5) Tidak berkata-kata saat berwudhu. (6) Berdoa setelah wudhu, dan amalan sunah lainnya.

            Ada empat hal yang tidak dapat diketahui nilainya, kecuali dengan empat hal lain. Yaitu (1) nilai kehidupan tidak dapat diketahui oleh orang yang mati. (2) Nilai kekayaan tidak dapat diketahui oleh orang yang fakir. (3) Nilai kesehatan tidak dapat diketahui oleh orang yang sakit. (4) Nilai masa muda tidak bisa diketahui oleh orang yang sudah tua.
           
            Sahabat Umar Bin Khatab ra, berkata, “Hisablah diri kalian sebelum dihisab, dan timbanglah amal kebaikan kalian sebelum kelak ditimbang (Umar bin Khatab). Mari kita laksanakan nasehat yang sangat baik tersebut, demi keselamatan dan kebahagiaan kita di dunia ini dan di akhirat kelak.

            Jadi Kiamat adalah batas perang kita melawan Iblis dan tentaranya. Disana tinggal hitung-hitungan, apakah kita akan beruntung atau tekor dalam menjalani bisnis selama di dunia. Mari kita ikuti petuah dari sesepuh Jawa, “Sak beja-bejane wong kang lali, luwih bejo wong kang eling lan waspada,” Seberapa pun beruntungnya orang yang lupa, lebih beruntung orang yang ingat dan waspada,” Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang yang senantiasa ingat kepada Allah dan melaksanakan perintah-Nya, serta dimampukan untuk menjauhi larangan-Nya. Amin

Reaksi:

0 komentar: